Diam, Kritik dan Perlawanan

menutup mata apa yang kita buat dan lihat disekeliling kita mungkin saja selama pikiran kita mengiyakan, tapi menutup hati ?

pada saat kita tidak cukup punya kekuatan untuk melawan maka diam adalah senjata yang pertama digunakan

kala diam tidak cukup dibaca sebagai aksi perlawanan maka kata-kata mungkin bermakna.

kadang bagi seseorang tindakan diam/perlawanan orang lain membuat dirinya lebih kuat dan bermakna

kadang bagi seseorang tindakan diam/perlawanan orang lain adalah saat untuk membuktikan dirinya kuat dan bermakna

maka sejatinya kita membutuhkan diam/kritik/perlawanan dari orang lain untuk membuktikan/membuat kita kuat dan bermakna dalam hidup kita

karena tanpa diam/kritik/perlawanan dari orang lain kita akan selalu merasa benar atau sudah cukup kuat

nah pada saat kita menghadapi diam/kritik/perlawanan dari orang lain haruskah kita selalu merasa terzalimi dan sabar ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: