Berbuat Baiklah pada Tempatnya

Berbuat baik kepada orang lain tidak ada agama yang melarangnya dan dalam hubungan antara manusia dengan manusia juga tidak ada yang melarang.
Bahkan orang kadang berbuat baik dalam perang dan kejahatan

Sering kita mendengar slogan “buanglah sampah pada tempatnya” atau versi move on nya “buanglah mantan pada tempatnya” dan dalam opini saya dalam berbuat baik juga demikian “berbuat baiklah pada tempatnya”.

Ada beberapa peristiwa yang mendasari opini saya, namun saya bagi 2 (dua) saja :

Pertama : Berbuat baik pada orang lain karena tidak sanggup menolak.

Berbuat baik seperti ini bisa menembus batas etika, peraturan dan logika sehat. sebagai contoh seperti ini seorang karyawan menghadapi masalah dengan sesuatu yang seharusnya bisa dikerjakan sendiri, namun sang karyawan melaporkan dan meminta bantuan ke atasannya untuk membantunya, dan dengan kebaikannya sang atasan mengakomodir permintaan itu bahkan dalam membantu diembel-embeli kata kasihan.

Pegawai yang seharusnya bisa mengurus sendiri dan seharusnya membantu atasan menjadi terbalik jadi atasan yang membantu bawahan. Untuk sekali dua kali mungkin bisa dilakukan dan dengan menimbang tingkat kesulitan/ketidakmampuan yang dihadapi, tetapi kalau terus menerus ?

Orang yang berbuat baik karena tidak sanggup menolak akan menghadapi resiko akan dimanfaatkan oleh orang lain dan kadang melewatkan resiko dari kebaikannya yang akan dihadapi di depan, misalnya menjawab atau berjanji bisa dibantu padahal sesuai prinsip atau peraturan/ketentuan tidak dapat dibantu sehingga melakukan apa saja untuk memenuhi janjinya atau menghadapi resiko tidak dapat dipercaya bila tidak dapat memenuhinya.

Kedua : Berbuat baik pada orang lain karena terpedaya/terpesona

Walaupun kebaikan yang timbul ini berbahaya juga tapi mungkin setidaknya menguntungkan bagi yang berbuat baik bila dilakukan dengan sadar. Secara logika sehat sebenarnya dapat kita dihindari bila tetap perpegang teguh pada prinsip/ketentuan/peraturan yang kita pegang dan tidak terpengaruh dengan apapun yang di lakukan si peminta. Dan sama halnya seperti kebaikan pertama, kadang melewatkan resiko dari kebaikannya yang akan dihadapi di depan

Akhir kata

Setiap orang yang memohon bantuan kepada kita dalam kacamata berpikiran positif kalau bisa kita bantu memang harus dibantu. Tapi kadang kita ada batasan waktu, kesempatan, etika, prinsip/peraturan/ketentuan dll serta terakhir berpikir negatif bahwa kebaikan kita tidak sedang dimanfaatkan.

Tidak ada orang yang mau dicap sebagai orang yang tidak mau berbuat baik tapi kita juga harus memiliki prinsip dan menjaga diri dengan kehatian-hatian. Lebih baik lagi dengan semua pertimbangan diatas, kita berbuat baik tanpa harus diminta.

Jadi berbuat baiklah pada tempatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: