Risiko pasar (market risk)

Risiko pasar (market risk) didefinisikan sebagai risiko kerugian baik pada posisi on- maupun off- balance sheet yang timbul dari pergerakan harga pasar. Istilah risiko pasar digunakan untuk menyebut kelompok risiko yang timbul dari perubahan tingkat suku bunga, kurs valuta asing dan hal-hal lain yang nilai-nya ditentukan pasar, misal ekuitas dan komoditi.

Eksposur bank terhadap suatu rate yang ditetapkan pasar, seperti tingkat suku bunga, timbul sebagai akibat dari salah satu hal berikut:

traded market risk – dimana bank secara aktif berpartisipasi dalam perdagangan instrumen pasar, seperti obligasi, yang nilainya dipengaruhi oleh perubahan pada nilai pasar.
risiko tingkat suku bunga dalam banking book – dimana bank menghadapi risiko perubahan suku bunga pasar karena struktur underlying kegiatan usahanya, seperti aktivitas pemberian kredit dan penghimpunan dana masyarakat.

Cara terbaik untuk memahami risiko terkait dengan eksposur di atas adalah dengan memperhatikan contoh-contoh yang mungkin saja dapat terjadi pada berbagai bank. Namun sebelumnya pembaca harus memahami konsep penting dalam risiko tingkat suku bunga: kurva imbal hasil (yield curve).

Imbal Hasil

Imbal Hasil (Yield curve) menunjukkan hubungan antara tingkat suku bunga efektif dengan tanggal jatuh tempo suatu investasi pada waktu tertentu.

Bentuk umum dari suatu kurva imbal hasil adalah struktur jangka waktu tingkat suku bunga. Kurva ini menunjukkan biaya meminjam uang terhadap durasi instrumen utang (kredit, obligasi, dll). Sebagai contoh, surat berharga pemerintah (misalnya obligasi) yang diterbitkan berbagai negara dengan periode antara satu hari (overnight) sampai 20 tahun. Tingkat suku bunga untuk masing-masing surat berharga ini akan berbeda dan pada umumnya suku bunga untuk periode yang lebih panjang akan lebih tinggi daripada periode yang lebih singkat. Kurva imbal hasil bagi obligasi ini dikenal sebagai kurva imbal hasil pemerintah (government yield curve). (Kurva imbal hasil secara keseluruhan akan dibahas lebih mendalam pada Bagian 4.4.2.)

Traded market risk

Traded market risk adalah risiko kerugian nilai investasi yang terkait dengan kegiatan pembelian dan penjualan (trading) instrumen keuangan di pasar secara berkesinambungan untuk mendapatkan keuntungan. Bank bersedia menanggung traded market risk dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dari risiko yang diambil.

Contoh berikut mengilustrasikan bagaimana traded market risk dapat terjadi.

Contoh
Misalkan Bank A berkeinginan melakukan kegiatan trading karena potensi keuntungan yang dapat diraihnya. Bank tersebut memutuskan untuk memperdagangkan obligasi pemerintah yang dalam contoh ini memiliki tingkat suku bunga tetap untuk periode lima tahun. Nilai obligasi itu akan dipengaruhi oleh perubahan tingkat suku bunga.

Jika tingkat suku bunga pasar turun hingga berada dibawah kurva imbal hasil, maka nilai obligasi pemerintah di atas akan meningkat karena tingkat suku bunga yang dibayarkan oleh obligasi tersebut tidak berubah.

Jika tingkat suku bunga pasar naik di masa mendatang, maka nilai obligasi pemerintah di atas akan jatuh karena tingkat suku bunga yang dibayarkan lebih kecil daripada tingkat suku bunga yang diperoleh Bank A apabila membeli obligasi baru.

Perubahan harga obligasi di atas adalah satu contoh dari traded market risk. Contoh lainnya diberikan di bawah ini.

Traded market risk – keputusan pendanaan

Bank A memiliki beberapa alternatif untuk mendanai pembelian obligasi pada contoh sebelumnya dengan melakukan penghimpunan dana berjangka waktu:
lima tahun dengan suku bunga tetap
lebih dari lima tahun
kurang dari lima tahun

Obligasi tersebut dikatakan matched dalam hal risiko tingkat suku bunga jika Bank A memilih untuk mendanai pembelian obligasi berjangka waktu lima tahun dengan melakukan penghimpunan dana untuk jangka waktu yang sama. Adanya keuntungan (gain) pada obligasi yang disebabkan oleh menurunnya tingkat suku bunga akan diimbangi dengan kerugian pada dana yang dihimpun, demikian pula sebaliknya. Bank A dalam hal ini tidak memiliki risiko pasar ataupun memiliki kemampuan yang signifikan untuk mendapatkan keuntungan dari kegiatan ini.

Jika trader Bank A yakin bahwa tingkat suku bunga akan naik di masa mendatang, Bank A mungkin akan memutuskan untuk memenuhi kebutuhan pendanaannya dengan menghimpun dana yang memiliki jangka waktu yang lebih panjang daripada durasi obligasi di atas. Misalnya, Bank A dapat melakukan penghimpunan dana berjangka waktu sepuluh tahun. Jika perkiraan trader tersebut benar dan tingkat suku bunga naik, maka nilai utang berjangka waktu sepuluh tahun yang suku bunganya yang lebih rendah dari tingkat suku bunga obligasi akan naik melebihi nilai obligasi yang didanai. Oleh karenanya Bank A akan mendapatkan keuntungan dari keseluruhan transaksi tersebut. Kegiatan ini dikenal sebagai long funding. Dalam hal ini harus dipahami bahwa jika tingkat suku bunga turun maka bank akan mendapatkan kerugian dari transaksi itu (lihat contoh Midland di bawah ini).

Jika trader Bank A yakin tingkat suku bunga akan turun di masa mendatang, Bank A mungkin akan memutuskan pendanaan pembelian obligasi berjangka waktu lima tahun tersebut dengan dana overnight. Ini dikenal dengan short funding. Bank harus memperpanjang pendanaannya setiap hari. Jika perkiraan trader benar, tingkat suku bunga dana setiap harinya akan semakin turun karena penurunan tingkat suku bunga pasar selama periode tersebut.

Kesalahan dalam pengambilan keputusan pendanaan akan sangat berisiko dan membawa konsekuensi pada terjadinya kerugian. Oleh karena itu, keputusan pendanaan mengandung traded market risk.

Contoh di atas terlihat cukup sederhana dan mengesampingkan kompleksitas yang akan dijelaskan pada saat pembahasan instrumen dan strategi trading yang lebih canggih. Meskipun demikian, contoh di atas dapat memberikan ilustrasi mengenai beberapa prinsip dasar market trading yang dapat digunakan untuk memperoleh keuntungan. Pembaca dianjurkan untuk memahami sepenuhnya konsep dalam bagian ini sebelum melanjutkan pada materi berikutnya.

Contoh
Midland Bank

Pada tahun 1989, Midland Bank (sebuah bank besar di Inggris) mengalami kerugian lebih dari GBP 116 juta atas posisi tingkat suku bunga yang dimiliki oleh investment bank yang merupakan anak perusahaannya. Hal ini dapat terjadi karena bank justru meningkatkan eksposur-nya sebagai upaya untuk menutup kerugian yang terjadi daripada segera menutup posisi yang ada pada saat tingkat suku bunga mulai bergerak ke arah yang merugikan Midland.

Risiko tingkat suku bunga dalam banking book

Contoh di atas mengilustrasikan risiko pasar dalam konteks kegiatan trading untuk mendapatkan keuntungan. Pada kenyataannya, cukup banyak bank yang menghadapi masalah serupa dalam pengelolaan risiko sebagai konsekuensi logis dari pelaksanaan kegiatan usaha sehari-hari. Hal ini disebut dengan risiko tingkat suku bunga dalam banking book (interest rate risk in the banking book), yang timbul sebagai akibat kegiatan yang dilakukan bank dengan nasabahnya.

Contoh
Bank A menghimpun dana dari deposan dan meminjamkan dana tersebut kepada nasabahnya untuk mortgage. Bank membayar tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral untuk dana yang dihimpun dan meminjamkan dana untuk mortgage dengan suku bunga tetap selama lima tahun.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa bank memiliki eksposur ‘short funding’, sama dengan kondisi yang dialami oleh trader pada contoh sebelumnya dalam memutuskan kebutuhan pendanaan. Dalam hal ini, bank terpaksa memiliki posisi trading tanpa mempertimbangkan suku bunga akan naik atau turun walaupun bank sebenarnya tidak berkeinginan melakukan trading tersebut.

Untuk menghindari posisi trading yang bersifat terpaksa di atas, Bank A perlu menyamakan (match) suku bunga pendanaan dan kreditnya (proses yang dikenal dengan lindung nilai atau hedging), yang melindungi baik nilai simpanan nasabah maupun nilai kredit. Terdapat berbagai cara yang dapat ditempuh bank dalam melakukan lindung nilai (hedging). yaitu :

mengubah model kegiatan usaha sehari-hari dengan menawarkan suku bunga yang sama untuk dana yang dihimpun dan kredit yang diberikan. Dalam kasus Bank A, bank dapat mengubah suku bunga kredit sesuai dengan tingkat diskonto bank sentral, atau mengubah suku bunga dana yang dihimpun menjadi suku bunga tetap lima tahun.
Menempatkan dana bank pada bank lain (dikenal dengan penempatan antar bank atau interbank lending) dan melakukan penghimpunan dana berjangka waktu lima tahun dari bank lain
jika tersedia pasar derivatif, melakukan transaksi swap dengan bank lain, dimana dalam contoh di atas bank memberikan tingkat suku bunga satu bulan kepada bank lain dan menerima tingkat suku bunga lima tahun dari bank lain tersebut.

(Tingkat diskonto bank sentral atau central bank discount rate adalah tingkat suku bunga yang ditetapkan bank sentral atas kredit yang diberikannya kepada sebuah bank. Suku bunga kredit antar-bank satu bulan digunakan sebagai proxy tingkat suku bunga diskonto bank sentral yang bukan merupakan suku bunga pasar).

Contoh
Asosiasi simpan pinjam Amerika Serikat (American Savings and Loan associations)

Pada dasarnya American Savings and Loan associations (S&Ls) adalah para pemberi kredit perumahan (mortgage loan), yang pada beberapa negara bagian memiliki kewenangan untuk melakukan investasi langsung dengan memiliki kegiatan usaha lain dan melakukan pengembangan properti.

Hingga tahun 1980-an, S&L adalah asosiasi yang sebagian besar dimiliki oleh anggotanya, namun akibat dari bencana risiko tingkat suku bunga dalam banking book (dijelaskan di bawah) yang menimpa industri ini, kini asosiasi ini sebagian besar dimiliki oleh pemerintah federal atau oleh pemegang saham.
Perkiraan awal biaya penyelamatan (bailout) mencapai USD 500 miliar atau sekitar USD 2.000 untuk setiap warga negara AS. Walaupun cukup banyak fraud yang terjadi, penyebab utama dari bencana tersebut dapat dikelompokkan kedalam dua bagian.
Pertama, dana yang ada dialokasikan pada properti yang harganya sudah sangat tinggi. Pada saat harga properti jatuh, jaminan yang ada menjadi sangat tidak memadai. Kedua, walaupun tingkat suku bunga motgage adalah suku bunga tetap, kurangnya klausul penalti pada pelunasan lebih awal telah memungkinkan debitur melakukan mengalihkan mortgage-nya untuk mendapatkan suku bunga yang lebih rendah pada saat suku bunga pasar menurun. Dalam keadaan ini, para pemberi kredit masih terikat pada sumber-sumber dana yang suku bunganya lebih tinggi.
Posisi mismatch atas pemberian kredit dengan suku bunga yang lebih rendah daripada suku bunga yang dibayarkan kepada para penyimpan dana menyebabkan banyak S&L jatuh dengan kerugian mencapai miliaran dolar.

2 Responses to “Risiko pasar (market risk)”

  1. Aulya Aryansyah Says:

    Aku copy – paste ya…
    Terima Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: