Dampak potensial dari kegagalan pengelolaan risiko dalam perbankan

Dampak risiko

Selain kerugian keuangan secara langsung, kejadian risiko pada bank juga dapat berdampak pada stakeholder bank tersebut – pemegang saham, pegawai dan nasabah – dan juga pada perekonomian. Secara umum, para pemegang saham dan pegawai terkena pengaruh secara langsung; namun tidak demikian halnya pada nasabah sehingga dampak kejadian risiko tersebut tidak terlihat dengan jelas. Risiko kerugian secara tidak langsung ini seringkali merupakan konsekuensi kejadian risiko yang memiliki dampak ekonomis. Dampak potensial pada stakeholder dan perekonomian dijelaskan di bawah ini.

Dampak pada para pemegang saham
Pada saat sebuah kejadian risiko operasional terjadi, para pemegang saham dapat terpengaruh oleh:

kehilangan nilai investasi secara keseluruhan – jatuhnya perusahaan
penurunan nilai investasi – penurunan harga saham yang dapat disebabkan oleh kehancuran reputasi atau penurunan keuntungan.
kehilangan dividen sebagai akibat berkurangnya keuntungan perusahaan
tanggung jawab terhadap kerugian – para pemegang saham mungkin dimintai pertanggungjawaban atas kerugian yang terjadi.

Contoh
BCCI
Pada bulan Juli 1991 Bank of Credit and Commerce International (BCCI) jatuh sebagai akibat internal fraud yang mencapai sekitar USD 4 miliar dan berbagai kewajiban yang mencapai USD 14 miliar. Ada dugaan bahwa BCCI terlibat dalam :
upaya menutupi kerugian trading sebesar USD 633 juta
manipulasi rekening untuk membantu peminjam terbesar BCCI, yang telah mendapatkan kredit sebesar USD 725 juta – jauh melebihi batas yang ditetapkan dalam regulasi perbankan
secara diam-diam mengakuisisi 56% sahamnya sendiri dengan biaya sebesar USD 500 juta
akuisisi ilegal (dengan menggunakan nama pihak lain) untuk mendapatkan pengendalian atas beberapa bank di AS
tidak dicatatnya beberapa simpanan nasabah dalam jumlah besar untuk menutupi kerugian
mencatat banyak kredit fiktif kepada para debitur, baik nyata maupun imajiner, untuk menutupi kerugian yang besar.
Setelah kejatuhan BCCI diketahui bahwa bank tersebut sebenarnya sudah tidak memiliki nilai lagi sehingga berdampak pada lebih dari satu juta investornya. Setelah kejatuhan tersebut ditunjuk beberapa likuidator untuk melikuidasi BCCI dan memulihkan nilai aktiva secara maksimum untuk kepentingan deposan dan krediturnya. Dalam tujuh tahun setelah kejatuhan BCCI, diperkirakan bahwa para likuidator telah berhasil memulihkan lebih dari USD 5,5 miliar. Para likuidator itu masih terus bertindak (Agustus 2005) dan saat ini menuntut Bank of England sebesar USD 1 miliar atas dugaan kegagalan menjalankan tanggung jawabnya sebagai regulator.

Dampak pada pegawai
Pegawai perusahaan dapat terpengaruh oleh kejadian risiko, terlepas dari ada tidaknya keterlibatan mereka dalam kejadian risiko tersebut. Dampak kejadian risiko pada pengawai dapat meliputi:

tindakan disipliner secara internal karena kelalaian atau kesengajaan pegawai
berkurangnya pendapatan, misalnya pengurangan bonus atau kenaikan gaji karena dampak kejadian risiko pada pendapatan perusahaan
kehilangan pekerjaan

Contoh
Orange County, California
Pada bulan Desember 1994 Orange County, yang berada pada negara bagian California-AS, mengejutkan pasar dengan mengumumkan bahwa pooling investasinya menderita kerugian sebesar USD 1,6 miliar, kerugian terbesar yang pernah dicatat otoritas pemerintahan setempat. Kerugian itu diakibatkan oleh aktivitas investasi yang dilakukan oleh bendaharawan wilayah yang mengelola portfolio sebesar USD 7,5 miliar milik sekolah wilayah, kota dan wilayah itu sendiri.

Dengan berinvestasi dalam produk derivatif, bendaharawan tersebut berspekulasi dengan nilai yang sangat besar bahwa tingkat suku bunga akan turun atau tetap rendah. Strategi investasi itu berhasil hingga 1994, saat Federal Reserve Board membuat serangkaian kenaikan suku bunga yang mengakibatkan kerugian pada pooling tersebut. Pooling investasi tersebut dilikuidasi bulan Desember 1994 dengan nilai kerugian sebesar USD 1,6 miliar.

Sebagai konsekuensi langsung dari kerugian ini, Orange County menyatakan bangkrut dan memberhentikan banyak pegawainya.

Dampak pada nasabah
Dampak kejadian risiko pada nasabah dapat terjadi secara langsung atau pun tidak langsung dan mungkin tidak dapat diidentifikasi dengan segera. Dampak kejadian risiko tersebut juga dapat berlanjut hingga periode-periode berikutnya dan menyebabkan dampak tambahan pada bank. Oleh karena itu, total kerugian sebagai akibat kejadian risiko yang terkait dengan para nasabah sulit dihitung.

perlu memahami konsekuensi dari risiko bagi nasabah bank karena hal ini memberikan penekanan pada kepentingan untuk meregulasi bank secara khusus daripada melakukan regulasi industri jasa keuangan secara menyeluruh.

Konsekuensi kejadian risiko operasional bagi nasabah meliputi :
penurunan tingkat pelayanan nasabah
pengurangan ketersediaan produk
krisis likuiditas
perubahan regulasi

Risiko operasional dan pelayanan nasabah
Telah dikemukakan bahwa risiko yang paling mempengaruhi nasabah sehari-hari adalah risiko operasional. Kejadian risiko operasional dapat berdampak secara langsung kepada nasabah melalui:
pelayanan yang keliru atau berkualitas buruk
gangguan pelayanan
keamanan yang kurang (baik nyata maupun hanya persepsi)
terhentinya pelayanan

Gangguan atas pelayanan nasabah dapat berdampak pada reputasi bank, yang akhirnya berdampak pada profitabilitas bank tersebut karena nasabah memindahkan bisnis mereka ke tempat lain. Masalah ini menjadi sangat penting apabila kejadian risiko operasional disebabkan oleh masalah teknis yang berdampak pada ribuan nasabah.

Dampak kejadian risiko operasional pada nasabah dapat mengakibatkan munculnya jenis kerugian keuangan lainnya bagi bank, misalnya:

pembayaran ganti rugi sebagai kompensasi dari kerugian tidak langsung
biaya litigasi
denda atau sanksi yang ditetapkan oleh regulasi

Contoh
Cahoot
Cahoot, sebuah bank yang hanya beroperasi pada jaringan internet secara online dan didirikan oleh Abbey National Bank di Inggris, mengalami masalah teknis segera setelah peluncurannya pada bulan Juni 2000, seperti yang dilaporkan oleh Financial Times. Kegagalan Cahoot dimulai dengan tidak berfungsinya sistem selama hampir dua hari dan ditambah dengan masalah-masalah lainnya selama tiga hari berikutnya. Strategi yang diambil Cahoot adalah dengan menawarkan overdraft bebas bunga dan kartu kredit kepada 25.000 nasabah pertama. Pesaing Cahoot yang juga merupakan bank online mempertanyakan apakah sistem yang dimiliki Cahoot mampu menghadapi tingkat permintaan yang ada.

Untuk menyetujui permohonan nasabah diperlukan waktu 10 hingga 14 hari, karena bank melakukan pemeriksaan pencucian uang pada klien potensial. Selain menolak calon debitur yang memiliki riwayat kredit yang berlebihan, siapapun yang tinggal di apartemen juga mungkin ditolak karena situs web tidak dapat memahami alamat seperti 35a, ‘kamar taman (garden flat)’ atau ‘kamar atas (top flat)’ (yang kesemuanya merupakan alamat yang umum di Inggris).

Dampak ekonomi dari suatu kejadian risiko
Pemberian kredit yang berlebihan (over-lending) – fenomena yang terus berulang (cyclical)
Cukup banyak krisis perbankan yang dapat dikaitkan dengan permasalahan klasik ‘pemberian kredit berlebihan’ (over-lending) dalam kondisi ekonomi yang sedang tumbuh pesat (booming). Masalah yang sebelumnya tidak diperhatikan dapat menjadi bencana di masa mendatang bagi bank, dan memberikan dampak sampingan yang tidak menguntungkan bagi nasabah dan perekonomian secara keseluruhan.

Bank yang over-lending pada saat ekonomi tumbuh pesat (boom) akan mengalami under-lending pada kejadian resesi yang muncul sesudahnya. Keadaan itu disebabkan oleh dampak resesi yang mengurangi modal bank karena terpaksa melakukan hapus-buku (write-off) kredit yang tidak tertagih. Pada gilirannya hal ini mengurangi kemampuan bank untuk memberikan kredit di masa mendatang apabila tidak ada tambahan modal baru.

Pengaruh siklus (procyclicality) ini dapat jelas terlihat dalam pemberian kredit pada “asset bubbles”. Over-lending selama pasar mengalami pertumbuhan pesat memberikan harapan pengembalian hasil dan valuasi aktiva yang tidak realistis, seperti yang pernah terjadi pada commercial dan residential real estate dan pasar ekuitas pada periode-periode tertentu, di berbagai pasar di dunia.

Contoh
Bubble ‘dotcom’
Pada akhir tahun 1990-an para investor berlomba-lomba untuk berinvestasi pada perusahaan internet karena dipandang sebagai sektor ‘yang cepat menghasilkan’ di pasar. Perilaku ini menyebabkan banyaknya perusahaan yang over-valued dengan harga ekuitas yang terlalu tinggi. Keadaan tersebut tidak berlangsung lama dengan adanya fakta bahwa perusahaan tidak dapat memberikan tingkat kembalian sebagaimana yang diprediksi semula, bahkan beberapa perusahaan semakin terjerat utang. Akhirnya tahun 2000 hingga 2001 pasar mengalami kejatuhan sehingga para investor mengalami kerugian miliaran dolar. Pada bulan November 2000 diperkirakan bahwa dalam delapan bulan terakhir nilai perusahaan-perusahaan dotcom mengalami penurunan lebih dari GBP 40 miliar dalam indeks FTSE TechMark di London.

Selama beberapa tahun berikutnya, perusahaan internet mengalami kesulitan menghimpun investasi walaupun rencana bisnis mereka sebenarnya berkualitas.

‘Prosiklikalitas’ kemungkinan akan menjadi bidang konsentrasi riset berikutnya dalam penyusunan model dan manajemen risiko kredit. Basel II telah dikritik karena berpotensi meningkatkan ‘prosiklikalitas’ pemberian kredit bank mengingat Basel II mengkaitkan hasil model pemeringkatan kredit dengan persyaratan modal sesuai ketentuan (regulatory capital). Dalam hal ini, penurunan peringkat kredit secara umum akan menyebabkan peningkatan persyaratan modal sesuai ketentuan (regulatory capital) tanpa memandang apakah kredit yang mengalami default meningkat atau tidak.

Likuiditas dan Risiko pasar
Dampak dari kejadian risiko pasar semakin meningkat sejalan dengan peningkatan aktiva yang diperdagangkan di pasar. Pertumbuhan aktiva dalam traded-market bukannya tidak mengandung permasalahan. Model matematis yang digunakan untuk membantu mengidentifikasikan dan memahami risiko serta pricing telah lama digunakan, namun masih belum dapat dianggap sebagai indikator yang handal untuk mengetahui kecenderungan yang ada pada risiko pasar.
Masalah yang dihadapi oleh Long-Term Capital Management (LTCM) dapat menjelaskan mengenai hal ini.

Contoh
Long-Term Capital Management
Pada bulan September 1998, Long-Term Capital Management (LTCM), hedge fund dari Amerika diselamatkan dari kejatuhan oleh 16 counterparty utama. Para counterparty sepakat menginvestasikan sekitar USD 4 miliar sehingga LTCM dapat mengurangi eksposur pasar sebesar kurang lebih USD 200 miliar secara bertahap untuk menghindari kegoncangan di pasar.

Long-Term Capital Management:
tidak melakukan hedging risiko; sebaliknya justru menerima risiko
tidak melakukan investasi jangka panjang, dan
membentuk modal melalui pinjaman yang memungkinkan para investor mendapatkan pengembalian (return) yang sangat besar dari pergerakan harga yang relatif kecil.

Tidak seperti investment funds, yang memiliki keterbatasan dalam kemampuan melakukan pinjaman, LTCM mampu melakukan pinjaman dalam jumlah yang berlipat ganda dari jumlah modalnya. Hal ini memainkan peranan besar dalam kejatuhan LTCM.
Salah satu permasalahan LTCM adalah bahwa dua partner LTCM menggunakan pendekatan akademis dalam melakukan bisnis. Kelemahan pendekatan ini adalah pandangan mereka tentang dunia, yaitu bahwa semua hal akan berjalan lancar sebagaimana diasumsikan oleh sebuah model. Sayangnya hal ini tidak sesuai dengan kenyataan. Masalah LTCM dimulai ketika pemerintah Rusia tidak dapat melunasi utangnya. Likuiditas, yang diandalkan oleh LTCM, mulai menurun drastis di seluruh pasar keuangan dunia dan LTCM terpaksa membayar dengan uang tunai yang ada untuk memenuhi komitmennya.

Krisis likuiditas mungkin merupakan suatu hal yang jarang terjadi saat ini dalam retail banking; namun tidak demikian halnya pada wholesale market. Wholesale bank tidak menerima simpanan dari nasabah ritel dan menggunakan aktiva yang dimilikinya sebagai agunan untuk mendapatkan pinjaman di pasar. Aktiva tersebut mencakup obligasi pemerintah dan obligasi korporasi. Jika aktiva tersebut menjadi tidak likuid (jika investor tidak berminat membeli obligasi tersebut atau hanya ingin membeli dengan nilai yang jauh lebih rendah), maka dapat terjadi krisis likuiditas. Krisis likuiditas dalam hal ini terjadi pada pasar wholesale. Untuk mengurangi dampak krisis likuiditas, maka:

otoritas perbankan harus meningkatkan kewaspadaan
bank sentral harus segera melakukan tindakan yang tepat, dan
manajemen bank harus melakukan monitoring secara ketat.

Kondisi pasar yang berubah merupakan salah satu alasan mengapa disusun Basel II Accord yang memiliki sensitivitas risiko yang lebih besar. Pembaca perlu memahami pentingnya masalah yang dibahas dalam bagian ini.
Sarbanes-Oxley (SOX)
Otoritas seringkali menerbitkan regulasi baru sebagai respon dari masalah tertentu dalam rangka mencegah terulangnya permasalahan tersebut. Penerbitan regulasi tersebut memiliki dampak tidak langsung pada nasabah bank, baik melalui biaya implementasi ataupun karena perubahan persepsi mengenai nilai-nilai yang ada.

Sebuah contoh dari meningkatnya regulasi setelah kejadian risiko adalah dikeluarkannya Sarbanes-Oxley Act di AS pada tahun 2002 yang merupakan ketentuan perundang-undangan untuk akuntabilitas korporasi. Undang-undang tersebut dikeluarkan setelah terjadinya skandal akuntansi yang berhubungan dengan jatuhnya perusahaan seperti Enron dan WorldCom.
International Accounting Standards (IAS)
International Accounting Standards mulai diperkenalkan secara meluas pada tahun 2005-06, khususnya di seluruh Uni Eropa. Standar ini akan mempengaruhi cara bank-bank mencatat, antara lain, hedging risiko tingkat suku bunga underlying dalam banking book. Ada kemungkinan beberapa jenis hedging tidak diizinkan dalam akuntansi sehingga akan mempengaruhi tingkat dan volatilitas profitabilitas bank. Beberapa pihak dalam industri perbankan memperkirakan bahwa akan terjadi potensi konflik antara best practices manajemen risiko menurut Basel II dengan ketentuan hedging menurut IAS.

Dikeluarkannya IAS kemungkinan juga akan mempengaruhi pengungkapan (disclosure) laporan keuangan (Reports and Accounts) bank, yang ditekankan dalam Pillar 3 Basel II tentang disclosure requirements. Mempertimbangkan regulasi baru akuntansi sebagai suatu kejadian risiko merupakan suatu hal yang tidak lazim. Namun demikian, jika IAS mengubah persepsi profitabilitas beberapa bank di masa datang, maka hal ini jelas merupakan suatu kejadian risiko. Oleh karena itu, hal tersebut perlu dikelola dengan hati-hati dan setiap dampak yang merugikan dijelaskan dengan sebaik-baiknya kepada stakeholder.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: